Sebagai orang tua yang anak-anaknya mulai beranjak dewasa, pergantian tahun sejatinya bukanlah momentum untuk larut dalam euforia jalanan atau pesta pora yang kerap menjurus pada kelalaian dan kemaksiatan. Islam justru mengajarkan agar setiap pergantian waktu dijadikan ruang kesadaran, evaluasi, dan penguatan arah hidup, terutama dalam membangun keluarga yang hangat, kokoh, dan berdaya juang. Di sinilah peran orang tua menjadi penentu utama masa depan keluarga.
Pertama, mengembalikan pergantian tahun sebagai waktu muhasabah keluarga.
Allah SWT berfirman, “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian” (QS. Al-‘Ashr: 1–2). Imam Asy-Syafi’i menegaskan bahwa siapa yang merenungi surat ini akan memahami hakikat hidup. Karena itu, orang tua perlu mengajak keluarga mengevaluasi perjalanan setahun yang lalu: mensyukuri nikmat, mengakui kekurangan, dan menata perbaikan. Muhasabah yang dilakukan dengan dialog lembut akan menumbuhkan kesadaran dan kedewasaan pada anak-anak.
Kedua, menghidupkan spiritualitas di dalam rumah.
Allah berfirman, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim: 6). Imam Ali bin Abi Thalib menafsirkan ayat ini dengan perintah mendidik dan membina keluarga. Shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan doa bersama di akhir dan awal tahun menghadirkan ketenangan yang tidak tergantikan oleh hiburan apa pun. Spiritualitas yang hidup menjadi sumber kehangatan dan kekuatan jiwa seluruh anggota keluarga.
Ketiga, membangun komunikasi emosional antara ayah, ibu, dan anak.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya” (HR. Tirmidzi). Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa kemuliaan akhlak seseorang paling nyata di rumahnya. Orang tua perlu hadir secara emosional, mendengarkan kegelisahan dan harapan anak, serta menjaga keharmonisan suami istri. Kehangatan pasangan orang tua akan memantul menjadi rasa aman bagi anak-anak.
Keempat, menyusun arah dan orientasi hidup keluarga.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban” (HR. Bukhari dan Muslim). Kepemimpinan orang tua mencakup peneguhan visi, nilai, dan cita-cita keluarga. Pergantian tahun adalah momen tepat untuk bermusyawarah: nilai apa yang ingin dijaga, target akhlak dan pendidikan anak, serta kontribusi keluarga bagi lingkungan. Anak yang dilibatkan akan tumbuh dengan semangat juang dan tujuan hidup yang jelas.
Kelima, menjadi teladan nyata dalam kesederhanaan dan kebaikan.
Anak tidak hanya mendengar nasihat, tetapi meniru sikap. Ketika orang tua memilih kebersamaan, ketenangan, dan ketaatan dibanding pesta pora, anak belajar bahwa hidup memiliki makna dan arah. Teladan inilah yang membentuk karakter kuat dan ketahanan moral.
Pada akhirnya, keluarga yang hangat dan visioner tidak dibangun oleh perayaan sesaat, melainkan oleh kehadiran orang tua yang sadar peran, kuat iman, dan konsisten dalam kebaikan. Dengan Al-Qur’an sebagai kompas dan sunnah Nabi sebagai teladan, pergantian tahun menjadi pintu hijrah menuju keluarga yang sakinah, penuh cinta, dan siap menapaki masa depan dengan keyakinan dan harapan.










