Penulis : Ust Rendi Faturohman S.Hum
Bekasi — Suasana berbeda terlihat di lingkungan SMPIT Bunyan Indonesia selama sepekan terakhir. Ratusan santri baru kelas 7 mulai mengenal lingkungan sekolah dan pesantren melalui kegiatan Masa Orientasi Pembelajaran Terpadu Islami (MOPTI) Tahun Ajaran 2026/2027 yang berlangsung pada 13–18 Juli 2026.
Dengan mengusung tema “Langkah Awal Menuju Generasi Qur’ani, Berkarakter, dan Berprestasi”, kegiatan MOPTI disusun bukan hanya sebagai masa pengenalan pesantren dan sekolah, tetapi juga sebagai langkah awal membangun kebiasaan hidup sebagai seorang santri. Selama enam hari, mereka belajar mengenal lingkungan baru, beradaptasi dengan ritme kehidupan pesantren, sekaligus mulai menanamkan nilai-nilai yang akan menemani proses belajar selama tiga tahun ke depan.
Hari pertama dibuka melalui upacara pembukaan yang diikuti seluruh santri baru dan OSBI. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan kurikulum, program kepesantrenan, tata tertib sekolah dan asrama, serta berbagai informasi yang perlu diketahui sebelum menjalani aktivitas belajar.
Suasana yang awalnya masih canggung perlahan berubah menjadi lebih akrab. Melalui sesi perkenalan dengan para guru, tenaga kependidikan, dan berbagai permainan kebersamaan, para santri mulai saling mengenal satu sama lain. Malam harinya mereka membuat name tag yang akan digunakan selama kegiatan MOPTI berlangsung.

Memasuki hari kedua, pembahasan beralih pada kehidupan seorang santri. Materi motivasi belajar mengingatkan kembali bahwa menuntut ilmu adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesungguhan. Santri juga diajak belajar mengatur waktu, memahami tanggung jawab, dan membangun kebiasaan yang baik sejak awal. Sore harinya mereka diajak berkeliling area sekolah dan pesantren agar lebih mengenal lingkungan yang setiap hari akan mereka tempati.

Hari ketiga menghadirkan nuansa yang berbeda. Seluruh rangkaian kegiatan dipusatkan pada upaya menumbuhkan kecintaan kepada Al-Qur’an. Melalui motivasi, permainan bertema Qur’ani, hingga berbagai aktivitas interaktif, para santri diajak menyadari bahwa Al-Qur’an akan menjadi sahabat dalam perjalanan mereka selama di pesantren.
Salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian adalah saat setiap santri diminta menulis “Surat untuk Diriku Tiga Tahun Mendatang.” Di atas selembar kertas, mereka menuliskan harapan, impian, dan target yang ingin dicapai ketika kelak menyelesaikan pendidikan di SMPIT Bunyan Indonesia. Surat tersebut akan kembali dibuka menjelang kelulusan sebagai pengingat perjalanan yang telah mereka lalui.

Hari berikutnya diisi dengan materi tentang adab. Mulai dari adab kepada Allah Ta’ala, Rasulullah ﷺ, orang tua, guru, hingga sesama teman dibahas melalui penyampaian materi dan simulasi sederhana. Santri tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga mempraktikkan berbagai situasi yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari di sekolah maupun di asrama. Kegiatan kemudian ditutup dengan pembelajaran life skill sebagai bekal kemandirian.
Kebersamaan semakin terasa pada hari kelima. Setelah memulai pagi dengan senam bersama, para santri bergotong royong merapikan kelas. Siang hingga sore hari diisi dengan berbagai permainan kelompok yang mengajak mereka belajar bekerja sama, saling mendukung, dan menyelesaikan tantangan bersama. Tawa dan sorak semangat terdengar hampir sepanjang kegiatan berlangsung.
Sabtu menjadi hari terakhir MOPTI. Santri menampilkan hasil pembelajaran life skill yang telah dipersiapkan sebelumnya, kemudian mengikuti upacara penutupan sebagai penanda berakhirnya seluruh rangkaian orientasi.
Meski MOPTI telah selesai, perjalanan mereka sebagai santri baru sesungguhnya baru dimulai. Pengalaman selama enam hari ini menjadi bekal awal untuk mengenal kehidupan pesantren, membangun kedisiplinan, mempererat ukhuwah, dan membiasakan adab dalam setiap aktivitas.
Semoga langkah pertama ini menjadi awal yang baik bagi seluruh santri kelas 7 untuk tumbuh sebagai pribadi yang mencintai Al-Qur’an, berakhlak mulia, serta bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.









