Oleh: Dr. KH. Uus Mauludin , M.A
Ketika Ilmu Tidak Membebaskan, tetapi Justru Menjadi Belenggu
Ada manusia yang terjajah karena kebodohan. Namun ada pula bentuk penjajahan yang jauh lebih berbahaya: seseorang menjadi terjajah justru karena kepintarannya sendiri.
Ia memiliki ilmu, pengalaman, gelar, kemampuan berpikir, bahkan mungkin sangat dihormati oleh banyak orang. Tetapi karena merasa paling tahu, ia menjadi sulit menerima nasihat, enggan mendengar masukan, dan merasa pendapat orang lain selalu berada di bawah dirinya. Akhirnya, ilmu yang seharusnya mengantarkannya kepada Allah justru menjadi bahan bakar kesombongan.
Masalahnya bukan pada ilmu. Masalahnya adalah ketika ilmu tidak lagi tunduk kepada kebenaran. Allah Ta’ala justru menjanjikan kemuliaan bagi orang-orang beriman dan berilmu:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” QS. Al-Mujadilah: 11
Namun ilmu baru menjadi jalan menuju kemuliaan ketika ia melahirkan iman, ketundukan, kerendahan hati, dan amal.
Ketika ilmu justru mengikuti hawa nafsu, manusia dapat terjebak dalam keadaan yang sangat berbahaya. Allah Ta’ala berfirman:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah menyesatkannya berdasarkan ilmu…” QS. Al-Jatsiyah: 23
Para ulama tafsir memberikan penjelasan yang sangat dalam tentang ayat ini. Ath-Thabari menjelaskan bahwa orang tersebut menjadikan hawa nafsunya sebagai penentu agama dan perilakunya: apa yang disukai dilakukan, sementara apa yang tidak disukai ditinggalkan, tanpa tunduk kepada petunjuk Allah.
Ibnu Katsir menjelaskan maknanya sebagai orang yang mengikuti hawa nafsu: apa yang dianggap baik oleh hawa nafsunya dilakukan dan apa yang dianggap buruk ditinggalkan. Bahkan beliau menukil penjelasan bahwa seseorang yang tidak mengendalikan hawa nafsunya seakan-akan menjadikan hawa tersebut sebagai sesuatu yang ia sembah.
Sedangkan Al-Qurthubi menegaskan bahwa orang tersebut menjadikan apa yang disukai dan dianggap baik oleh dirinya sebagai sesuatu yang harus diikuti; hawa nafsunya akhirnya menjadi semacam “tuhan” yang ditaati.
Inilah penjajahan yang sesungguhnya.
Seseorang mungkin bebas secara fisik, tetapi diperbudak oleh egonya.
Ia bebas berbicara, tetapi tidak bebas dari kebutuhan untuk selalu merasa benar.Ia memiliki ilmu, tetapi tidak bebas dari kesombongan.
Ia mampu memberi nasihat, tetapi tidak mampu menerima nasihat.
Ia mampu mengkritik orang lain, tetapi sulit dikritik.Ia mengetahui banyak dalil, tetapi ketika dalil bertentangan dengan keinginannya, hawa nafsunya yang menang.
Pada titik itu, ilmu tidak lagi menjadi cahaya. Ilmu telah ditundukkan oleh hawa nafsu.
Al-Qur’an bahkan memberikan gambaran yang sangat kuat tentang seseorang yang telah diberi ayat-ayat Allah tetapi kemudian mengikuti hawa nafsunya:
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ
“Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami mengangkat derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya.” QS. Al-A’raf: 176
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang tersebut sebenarnya memiliki ayat-ayat yang dapat mengangkat derajatnya, tetapi ia justru condong kepada kenikmatan dan perhiasan dunia serta mengikuti hawa nafsunya. Maka kita mendapatkan sebuah pelajaran besar:Ilmu dapat mengangkat manusia, tetapi hawa nafsu dapat menjatuhkannya.
Bukan berarti Allah Ta’ala menghendaki seseorang menjadi hina setelah sebelumnya hendak dimuliakan secara pasti dalam arti yang kita tentukan; tetapi Al-Qur’an menunjukkan jalan yang dapat mengangkat seseorang melalui ilmu dan jalan yang dapat menjatuhkannya ketika ilmu itu tidak diikuti dengan ketundukan dan ia memilih mengikuti hawa nafsu.Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Seberapa banyak ilmu yang saya miliki?”
Tetapi tanyakan:“Seberapa jauh ilmu saya membuat saya semakin tunduk kepada Allah?”
Apakah ilmu membuat kita semakin rendah hati?
Apakah ilmu membuat kita semakin mudah menerima kebenaran?
Apakah ilmu membuat kita semakin takut kepada Allah?
Apakah ilmu membuat kita semakin bermanfaat bagi manusia?
Atau justru ilmu membuat kita merasa paling benar, paling tahu, paling layak didengar, dan paling sulit menerima orang lain?
Pintar tetapi terjajah adalah ketika akal telah berkembang, tetapi hawa nafsu menjadi penguasanya.
Sebaliknya, orang yang benar-benar berilmu adalah orang yang ilmunya berhasil membebaskan dirinya dari penghambaan kepada hawa nafsu dan mengantarkannya menjadi hamba Allah.
Maka jangan sampai ilmu yang seharusnya menjadi kendaraan menuju kemuliaan justru berubah menjadi kendaraan menuju kesombongan.
Jangan sampai kita pintar, tetapi terjajah.
Jangan sampai kita berilmu, tetapi diperbudak ego.
Jangan sampai kita banyak tahu, tetapi sedikit tunduk.
Karena kemerdekaan sejati bukan ketika kita mampu mengatakan apa saja yang kita inginkan, tetapi ketika kita mampu menundukkan apa yang kita inginkan kepada apa yang Allah Ta’ala ridhai.
- Ilmu + Iman + Ketundukan = Kemuliaan.
- Ilmu − Ketundukan = Kesombongan.
- Ilmu + Hawa Nafsu = Penjajahan yang paling berbahaya.
Wallāhu a’lam bish-shawāb.










