BUNYAN.CO.ID, BEKASI – Menyongsong fajar Tahun Ajaran Baru 2026/2027, Yayasan Bunyan Auladia Cemerlang resmi menggelar Rapat Kerja (Raker) Tahunan dengan penuh khidmat dan semangat membara. Momentum krusial ini menjadi pijakan awal bagi seluruh jajaran pendidik dan staf untuk memperbarui niat, merapatkan barisan, dan memperkokoh sinergi demi mengemban misi besar jihad tarbawi (perjuangan pendidikan).
Acara yang berlangsung tertib dan dinamis ini dipandu dengan anggun oleh Ibu Ela Nurlela selaku pembawa acara. Suasana terasa semakin syahdu dan menggetarkan jiwa saat lantunan ayat suci Al-Qur’an serta untaian doa berkumandang, dibawakan dengan penuh kekhusyukan oleh Ustadz Firman Gusti Ramadhan, S.Ag., Gr.

Ustadz Saepuloh: Jangan Seperti Air yang Pasrah Mengalir, Guru Harus Mengukir dan Menginspirasi
Direktur Sekolah Bunyan Indonesia, Ustadz Saepuloh, S.Pd.I., dalam sambutan pembukanya menekankan pentingnya tashihun niyah—meluruskan kembali niat yang ditopang oleh idealisme kuat. Menurutnya, pendidikan bukan sekadar profesi profesi formal, melainkan sebuah jalan dakwah untuk melahirkan generasi terdidik yang berwawasan luas.
Di era legal standing ini, Ustadz Saepuloh mengingatkan pentingnya penguatan tertib administrasi dan SOP yang kokoh. Beliau mengapresiasi lonjakan signifikan jumlah guru yang telah tersertifikasi tahun ini, mulai dari tingkat TK hingga SMA. Namun, beliau menegaskan bahwa gelar formal harus berbanding lurus dengan kemanfaatan yang nyata.
“Jangan pernah menjadi seperti air yang familiar diucapkan orang, ‘saya mah mengalir saja hidupnya’. Air yang hanya mengalir biasa akan terasa hambar. Tetapi air yang digerakkan, dikelola, dan di-upgrade, akan mampu membangkitkan listrik dan memberi manfaat publik yang menarik,” ujar Ustadz Saepuloh memotivasi.Sebagai langkah konkret peningkatan kapasitas diri, beliau mengajak seluruh guru untuk membudayakan literasi dengan membaca minimal satu buku setiap bulan, yang diimbangi dengan penguatan spiritual melalui zikir Al-Matsurat serta konsistensi ibadah wajib dan sunnah.

Ustadz Feri Firmansyah: Menjadi ‘Bunyan’, Bangunan Kokoh yang Saling Menopang
Senada dengan hal tersebut, Direktur Bunyan Islamic Center, Ustadz Feri Firmansyah, Lc., M.E.Sy., membakar semangat para hadirin dengan menganalogikan peserta Raker seperti barisan pejuang peradaban yang kompak, kokoh, dan siap berjuang.
Ia mengingatkan bahwa tantangan zaman ke depan semakin kompleks, terutama terkait derasnya arus degradasi moral di tengah masyarakat. Oleh karena itu, dakwah tarbawi tidak boleh terpenjara di dalam ruang kelas saja, melainkan harus meluas dan dirasakan dampaknya oleh lingkungan sekitar.
“Bunyan artinya bangunan yang kuat. Maka dari itu, unit sekolah, tim keamanan, divisi sosial, hingga urusan akomodasi dapur, semuanya harus menyatu, berpadu, dan saling menumpu. Jika kita kompak, tantangan seberat apa pun akan mampu kita hadapi bersama,” tegas Ustadz Feri.

Dr. KH. Uus Mauludin: Adaptasi atau Punah Seperti Dinosaurus!
Puncak pembekalan spiritual dan orientasi strategis disampaikan langsung oleh Ketua Yayasan Bunyan Auladia Cemerlang, Dr. KH. Uus Mauludin, M.A. Dengan pandangan yang tajam dan visioner, beliau mengingatkan bahwa keberadaan seluruh SDM di Bunyan bukanlah sekadar untuk mengajar demi menggugurkan tugas, melainkan untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam dan sunnah Nabi Muhammad SAW.
Beliau menyoroti pentingnya tiga pilar dasar yang harus dimiliki oleh setiap pejuang Bunyan:
1. Tatanan Jiwa (Ruhiyah): Menjadi benteng utama untuk mengisi hati yang kosong di tengah bisingnya media sosial, serta mengobati lelah mental dan spiritual dengan mendekatkan diri kepada Allah.
2. Tatanan Ilmu: Menguasai ilmu berbasis kompetensi yang berlandaskan hubungan baik kepada Allah (hablumminallah) dan sesama manusia (hablumminannas).
3. Kemampuan Bahasa (Skill Basic): Sebagai alat komunikasi global untuk meluaskan jangkauan dakwah.
Merujuk pada konsep ilmiah Rantai Markov, Dr. KH. Uus menjelaskan bahwa apa yang diputuskan dan dilakukan oleh para guru hari ini, akan berdampak sangat besar bagi masa depan institusi dan nasib generasi mendatang. Beliau pun menutup taujihnya dengan sebuah kutipan legendaris yang membekas di hati seluruh peserta.
“Orang yang hebat bukanlah orang yang paling kuat, melainkan mereka yang mampu beradaptasi dan mau berubah. Jangan sampai kita menjadi seperti dinosaurus—mereka makhluk yang sangat besar dan kuat, namun akhirnya musnah dilindas zaman karena tidak mampu beradaptasi. Kita tidak boleh punah!” pesan KH. Uus dengan tegas.

Raker Pembukaan Tahun Ajaran 2026/2027 ini ditutup dengan tekad bulat dari seluruh peserta. Dengan niat yang bersih, administrasi yang rapi, serta hati yang terpaut pada Ilahi, Yayasan Bunyan Auladia Cemerlang siap melangkah pasti, mengukir prestasi, dan menginspirasi negeri.










