Hikmah Ramadhan dalam Iftar Jama’i SDI: Islam, Agama yang Selaras dengan Fitrah dan Ilmu

Yayasan Bunyan Auladia Cemerlang menyelenggarakan kegiatan Iftar Jama’i SDI Ramadhan 1447 H di Masjid Jami’ Nur Al-Ghamidi pada Sabtu (7/3/2026). Seluruh sumber daya insani (SDI) yayasan hadir dan mengikuti kegiatan tersebut dengan penuh antusias.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan tausiyah dengan tema “Ramadhan: Sekolah Kehidupan untuk Muslim Berilmu dan Beradab.” Tausiyah ini mengajak peserta memahami bahwa Islam tidak hanya membimbing spiritualitas. Islam juga selaras dengan fitrah manusia dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Islam Tidak Terikat Wilayah atau Tokoh

Dalam tausiyahnya, Prof. Shohirin menjelaskan bahwa sebagian teori agama sering mengaitkan agama dengan tokoh pendirinya. Ada juga teori yang menghubungkan agama dengan wilayah tertentu. Karena itu, sebagian orang sering mengaitkan beberapa agama dengan bangsa atau wilayah tertentu. Pandangan seperti ini banyak berkembang dalam kajian Barat.

Namun Islam memiliki karakter yang berbeda. Islam tidak lahir dari pemikiran manusia. Islam adalah wahyu dari Allah. Allah menyampaikan wahyu tersebut kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai petunjuk bagi seluruh manusia. Karena itu, Islam bersifat universal dan dapat diterima oleh siapa pun, di mana pun, dan kapan pun.

Pengalaman di Islamic Centre London

Prof. Shohirin juga menceritakan pengalaman menarik ketika bertugas sebagai imam shalat Idul Fitri di Islamic Centre London. Pada saat itu, jamaah muslim London melaksanakan shalat Idul Fitri di Central Park London. Banyak masyarakat Barat yang melihat langsung pelaksanaan shalat tersebut. Mereka memperhatikan setiap gerakan dengan rasa ingin tahu. Salah seorang di antara mereka kemudian bertanya, “Ini agama apa?”

Lalu prof menjelaskan bahwa ini adalah agama Islam yang berarti peace-damai, ia merasa heran. Menurutnya, banyak ritual agama biasanya diiringi musik atau nyanyian. Namun dalam ibadah ini tidak ada musik. Yang terlihat justru rangkaian gerakan ibadah yang teratur dan khusyuk.

Perhatiannya kemudian tertuju pada gerakan shalat. Gerakan tersebut dimulai dari berdiri, kemudian rukuk, lalu sujud. Ketika ia mengetahui bahwa gerakan itu dilakukan setiap hari, ia semakin terkejut. Ternyata orang Barat yang bertanya tadi adalah peneliti yang mempelajari kesehatan otak. Lalu ia menjelaskan bahwa posisi sujud sangat baik bagi aliran darah menuju otak. Posisi ini membantu menjaga fungsi otak manusia. Ia bahkan menyimpulkan bahwa gerakan shalat memiliki manfaat kesehatan yang besar jika dilakukan secara rutin.

Ajaran Islam Selaras dengan Ilmu

Pengalaman lain juga menunjukkan bahwa ajaran Islam sering selaras dengan ilmu pengetahuan. Suatu ketika, Prof. Shohirin melakukan pemeriksaan kesehatan jantung melalui CT scan di Inggris. Dokter yang memeriksanya kemudian menanyakan beberapa kebiasaan hidup. Dokter tersebut bertanya apakah beliau pernah merokok atau mengonsumsi alkohol. Jawabannya sederhana: tidak pernah.

Dokter tersebut kemudian mengakui bahwa dahulu ia pernah melakukan kebiasaan tersebut. Namun setelah mempelajari ilmu kedokteran, ia menyadari dampak buruknya. Akhirnya ia memutuskan untuk berhenti. Prof. Shohirin kemudian menjelaskan bahwa ia tidak mengerti dan tidak mempelajari kedokteran. Namun agamanya telah lebih dahulu melarang hal-hal tersebut. Prof kemudian menjelaskan bahwa dalam Islam terdapat konsep halal dan haram. Sesuatu yang halal membawa manfaat. Sebaliknya, sesuatu yang haram membawa mudarat bagi manusia.

Islam Sesuai dengan Fitrah Manusia

Selain selaras dengan ilmu, Islam juga sesuai dengan fitrah manusia. Dalam beberapa tradisi keagamaan, ada pemuka agama yang tidak diperbolehkan menikah. Namun larangan tersebut sering menimbulkan konflik batin. Hal itu terjadi karena larangan tersebut bertentangan dengan naluri manusia.

Islam justru memandang pernikahan sebagai bagian dari kesempurnaan hidup. Pernikahan juga menjadi jalan yang sesuai dengan fitrah manusia.

Allah berfirman:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Ar-Rum: 30)

Puasa Ramadhan dan Keseimbangan Hidup

Islam memberikan panduan hidup yang seimbang. Salah satu ibadah yang penuh hikmah adalah puasa di bulan Ramadhan. Puasa tidak hanya meningkatkan ketakwaan. Puasa juga melatih pengendalian diri. Selain itu, puasa memiliki manfaat kesehatan. Dalam ilmu kedokteran dikenal konsep pengaturan pola makan dan kapasitas pencernaan. Lalu dalam ajaran Islam melarang manusia makan secara berlebihan. Karena itu, puasa membantu menjaga keseimbangan tubuh. Puasa memiliki dua dimensi sekaligus. Puasa memiliki dimensi spiritual dan dimensi kesehatan.

Harapan Besar bagi Orang Beriman

Pada akhir tausiyahnya, Prof. Shohirin mengutip firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 104.

“Dan janganlah kamu merasa lemah dalam mengejar mereka. Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan sebagaimana kamu menderitanya, sedangkan kamu mengharapkan dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 104)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia sama-sama merasakan kesulitan dalam hidup baik orang beriman maupun yang tidak beriman. Namun orang beriman memiliki keistimewaan. Orang beriman memiliki harapan kepada Allah. Harapan inilah yang memberi kekuatan dalam menjalani kehidupan. Setiap ibadah, kesabaran, dan kelelahan dalam kebaikan tidak akan sia-sia di sisi Allah.

Semoga melalui kegiatan Iftar Jama’i SDI Ramadhan 1447 H, nilai-nilai Ramadhan semakin menguatkan kita semua. Semoga kita menjadi Muslim yang berilmu, beradab, dan memiliki harapan besar kepada Allah dalam setiap langkah kehidupan.

IftarJamai #Ramadhan1447H #YayasanBunyanAuladiaCemerlang #MasjidNurAlGhamidi #KajianRamadhan #TausiyahRamadhan #IslamDanIlmuPengetahuan #MuslimBerilmu #MuslimBeradab #FitrahManusia #HikmahPuasa #RamadhanSekolahKehidupan #SDIYayasanBunyan #KegiatanRamadhan #KabarYayasanBunyan