@Akmaludin Alghifari
BUNYAN.CO.ID, BEKASI — Suasana khidmat menyelimuti lapangan Sekolah Bunyan Indonesia pada Senin pagi (27/7/2026). Di bawah cerahnya langit pagi, pelaksanaan Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih berlangsung penuh makna. Upacara kali ini tidak hanya menjadi rutinitas kedisiplinan, tetapi juga menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama: mewujudkan sekolah sebagai tempat belajar yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang.
Bertindak sebagai Pembina Upacara, Kepala Sekolah SDIT Bunyan Indonesia, ibu Wiandini Mandasari, S.E., Gr., menyampaikan amanat mendalam yang menyentuh hati seluruh peserta upacara. Beliau mengingatkan kembali esensi dasar dari keberadaan sekolah bagi para murid.
“Anak-anak, sekolah ini adalah rumah kedua kita. Tempat kita belajar, tertawa bersama, dan tumbuh bersama. Harusnya, sekolah ini menjadi tempat paling aman dan nyaman untuk kalian,” tutur bu Dini (sapaan akrab beliau) di hadapan ratusan siswa yang menyimak dengan penuh perhatian.

Menghapus Bullying yang Berkedok “Candaan”
Dalam amanatnya, ibu Dini secara jujur dan terbuka menyoroti tindakan-tindakan kecil yang kerap dianggap sekadar gurauan belaka, padahal tanpa disadari telah melukai perasaan sesama teman.
Beberapa perilaku yang perlu dihentikan antara lain:
- Panggilan yang Melukai: Memanggil nama teman menggunakan sebutan orang tua atau julukan yang tidak pantas.
- Cemoohan Fisik: Mengolok-olok penampilan fisik, cara berjalan, maupun gaya bicara teman.
- Pengucilan Sosial: Membiarkan teman sendirian dan menolak memberi izin untuk bergabung dalam permainan.
- Kekerasan Fisik: Tindakan saling dorong yang berisiko membuat teman terjatuh hingga menangis
Dengan nada lembut namun tegas, bu Dini menekankan batasan antara lelucon dan tindakan menyakiti.
“Bullying atau perundungan bukanlah lelucon. Jika salah satu pihak merasa sakit hati dan takut, itu bukan lagi candaan. Itu namanya menyakiti,” tegasnya.

Tiga Janji Kebajikan: Aksi Nyata Murid Bunyan
Untuk membentengi lingkungan SDIT Bunyan Indonesia dari budaya perundungan, Bu Dini mengajak seluruh siswa mengikat janji bersama melalui tiga pilar kebaikan:
- Saling Menghargai dan Menyayangi
Tidak ada manusia yang sempurna. Ada murid yang unggul di bidang matematika, ada yang mahir menggambar, ada yang bertipe pendiam, dan ada pula yang periang. Keberagaman inilah yang membuat sekolah menjadi indah. Tidak ada alasan untuk merasa paling hebat lalu merendahkan yang lain.
2. Jangan Takut Bersuara
Ketika melihat atau mengalami tindakan ejekan dan gangguan, siswa diminta untuk tidak berdiam diri. Segera laporkan kepada Guru, Wali Kelas, atau Kepala Sekolah. Melapor bukanlah bentuk cengeng, melainkan simbol keberanian untuk melindungi kebaikan.
3. Jadilah Teman yang Baik
Hadirkan empati saat melihat teman yang menyendiri atau diganggu. Rangkul mereka, temani perjalanan belajar mereka, dan jadilah alasan seseorang bisa tersenyum bahagia hari ini.

“Jadilah Teman Menyenangkan, Bukan Pelaku Menakutkan”
Menutup amanatnya, bu Diiini menyampaikan keyakinan besarnya terhadap karakter seluruh anak didik di Sekolah Bunyan Indonesia. Beliau percaya bahwa murid-murid Bunyan adalah pribadi yang berhati mulia, cerdas, dan memiliki tingkat empati yang tinggi.
Sebuah kalimat kunci yang berima dan penuh makna pun ditinggalkan sebagai pedoman seluruh siswa:
“Ingat pesannya ya: Jadilah teman yang menyenangkan, bukan pelaku yang menakutkan.”
Melalui pesan ini, SDIT Bunyan Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya berfokus pada keunggulan akademis, tetapi juga secara konsisten membentuk karakter murid yang santun, saling merangkul, bukan memukul; serta saling menentramkan, bukan menjatuhkan.
Mari bersama-sama kita ciptakan suasana sekolah yang penuh kasih sayang, aman, nyaman, dan tentram!









#SDITBunyanIndonesia #SekolahBebasPerundungan #StopBullying #SekolahRamahAnak #PendidikanKarakter #RumahKedua #UpacaraBendera










