TUGAS POKOK MANUSIA

Oleh: Dr. H. Uus Mauludin. MA
Ketua Yayasan Bunyan Auladia Cemerlang

Manusia adalah sebaik-baik ciptaan Allah Taála. Sebagaimana firman-Nya;
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ فِيْۤ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ
Artinya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. At-Tin 95: Ayat 4).


Allah Taála berikan tanggungjawab untuk manusia dengan dua fungsi (amanah), yaitu sebagai khalifah di bumi dan sebagai abdi (hamba) Allah Taála.

Pertama, sebagai khalifah seperti yang diterangkan Allah Taála dalam firman-Nya;
وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30).

Imam Ibn Katsir rahimahullah memberikan pengertian bahwa, khalifah diartikan sebagai kaum yang sebagiannya mengganti yang lain, abad demi abad. Allah Taála mengamanahkan bumi beserta isi kehidupannya kepada manusia sehingga dapat dikatakan manusia merupakan wakil yang bertugas sebagai pemimpin dan pemakmur di bumi Allah Taála.

Kedua, manusia sebagai abdi (hamba) Allah Taála. Firman-Nya:
وَلَا تَجْعَلُوْا مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ ۗ اِنِّيْ لَـكُمْ مِّنْهُ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ
Artinya: “Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain selain Allah. Sungguh, aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu”


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56).

Ayat ini memberi isyarat bahwa manusia harus mengabdikan segala keyakinan, pikiran, perasaan, dan perbuatannya hanya kepada Allah Taála saja. Sebagai pemimpin, manusia tampil dengan sosok yang memiliki kemampuan untuk mengatur dan mengelola alam semesta sebagaimana Firman Allah Taála:
… هُوَ اَنْشَاَ كُمْ مِّنَ الْاَ رْضِ وَا سْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا فَا سْتَغْفِرُوْهُ ثُمَّ تُوْبُوْۤا اِلَيْهِ ۗ اِنَّ رَبِّيْ قَرِيْبٌ مُّجِيْبٌ
Artinya: “… Dia telah menciptakanmu dari Bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya)” (QS. Hud 11: Ayat 61).

Akan tetapi, kemampuan yang dimiliki manusia ternyata terbatas. Manusia adalah makhluk yang lemah, tidak mampu berdiri sendiri kecuali “diberdirikan” oleh Yang Maha Memberdirikan. Kemampuan manusia merupakan percikan dari kemampuan yang diberikan oleh Allah Taála. Sebaliknya, sebagai abdi, manusia bertugas untuk taat kepada Allah Taála tanpa ada tawar-menawar.
وَمَا كَا نَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗۤ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًا
Artinya: “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 36).

Mengingat pentingnya fungsi pokok manusia sebagai khalifah di bumi dan sebagai abdi-Nya, Allah Yang Maha Bijaksana memberikan perangkat kepada manusia agar ia dapat melaksanakan tugas dan fungsi tersebut dengan baik. Perangkat itu berupa fitrah. Prinsip yang terbangun dalam merealisasikan tugas atau fungsi manusia tersebut tidak lain adalah melalui pendidikan yang bersumber dari sang Pencipta. Pemeliharaan hakikat manusia dan pengembangan manusia sesuai fitrahnya telah terbukti pada zaman keemasan dan kegemilangan Islam (Sahabat, Tābi’in, dan Tābi’ut Tābi’īn) dan orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka.