PENDIDIKAN BERBASIS FITRAH


Oleh: Dr. Uus Mauludin. MA

Manusia diberi potensi oleh Allah Taála untuk menjadi baik atau menjadi buruk, Firman-Nya:
وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰٮهَا ْ فَاَ لْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰٮهَا ْ قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰٮهَا ْ وَقَدْ خَا بَ مَنْ دَسّٰٮهَا ْ
Artinya: “maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya (7), demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya (8), sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu) (9), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya (10)” (QS. Asy-Syams 91: Ayat 7-10).
Orang yang menyucikan jiwanya adalah yang selalu menjaga fitrahnya agar selalu dalam kondisi sebagai fitrah ilahiah dengan bimbingan Allah Taála. Manusia yang demikian dapat menggunakan potensi-potensi yang dikaruniakan Allah Taála untuk menjalankan fungsinya sebagai khalifah dan abdi-Nya. Sebaliknya, orang yang lalai dari menyucikan jiwa akan mengotori jiwa itu. Dengan demikian, fitrah yang dibawa sejak lahir dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Fitrah manusia akan mengalami kerusakan ketika terkotori (dosa dan kezaliman) dan tertutupi (kekufuran).
Memelihara fitrah merupakan usaha pendidikan yang harus dilakukan setiap manusia. Allah Taála berfirman:
فَاَ قِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا ۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّا سَ عَلَيْهَا ۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَـلْقِ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ۙ وَلٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّا سِ لَا يَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ar-Rum 30: Ayat 30).
Ayat ini menerangkan bahwa dengan pendidikan yang berpegang pada nilai-nilai agama yang lurus (Islam), manusia akan tetap pada fitrahnya. Selanjutnya, dalam surah lain Allah Taála berfirman:
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا خْتِلَا فِ الَّيْلِ وَا لنَّهَا رِ لَاٰ يٰتٍ لِّاُولِى الْاَ لْبَا بِ ْ الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ ْ
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (190), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka (191)” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 190-191)
اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَسَلَـكَهٗ يَنَا بِيْعَ فِى الْاَ رْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهٖ زَرْعًا مُّخْتَلِفًا اَ لْوَا نُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَـرٰٮهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهٗ حُطَا مًا ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَذِكْرٰى لِاُ ولِى الْاَ لْبَا بِ
Artiny: “Apakah engkau tidak memperhatikan, bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi, kemudian dengan air itu ditumbuhkan-Nya tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian menjadi kering, lalu engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat” (QS. Az-Zumar 39: Ayat 21).
وَا لَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَا جِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّا جْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَا مًا ْ اُولٰٓئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوْا وَيُلَقَّوْنَ فِيْهَا تَحِيَّةً وَّسَلٰمًا ْ
Artinya: “Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa (74), “Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam (75)” (QS. Al-Furqan 25: Ayat 74-75).
Setiap manusia telah diberikan fitrah yang sempurna oleh Allah Taāla. Oleh karena itu, pendidikan yang diberikan harus sesuai dengan fitrah tersebut, manusia harus dididik untuk mengetahui dirinya, Tuhannya, dan tempat dimana dia hidup dan kemana akan kembali, sebagai hamba sekaligus khalifah di muka bumi sebagimana firman Allah Taāla:
وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30).
Mengingat pentingnya pendidikan berbasis fitrah tersebut, orang tua merupakan penanggung jawab utama dan pertama bagi pendidikan peserta didik agar tetap menjadi sebaik-baik ciptaan Allah Taála dan mengembangkan potensi baiknya, serta mengusahakan perbaikan apabila terjadi penyimpangan. Hal demikian seperti yang disampaikan pada hadis Rasulullah SAW:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
Artinya: “Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah (suci). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani” (HR Bukhari dan Muslim).
Pada tulisan selanjutnya, dijelaskan bahwa Fitrah manusia dalam Model Sistem Pendidikan Bunyan 2.0 dibagi menjadi 9 aspek yang dikelompokkan dalam 3 kelompok; pertama, pengembangan diri yang meliputi kecerdasan spiritual, kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional, kedua, pembinaan intensif yang meliputi kognisi, afeksi dan psikomotor, dan ketiga, muatan Al-Islam yang meliputi akidah, ibadah, dan muamalah.