Quranic Journey Kelas 9 SMPIT Bunyan Indonesia: Menghafal dengan Lisan, Menghidupkan dengan Hati

 

Dalam rangka penguatan karakter dan hafalan Al-Qur’an bagi santri kelas akhir, SMPIT Bunyan Indonesia menyelenggarakan kegiatan Quranic Journey atau Karantina Al-Qur’an dengan tema “Menghafal dengan Lisan, Menghidupkan dengan Hati.” Kegiatan ini dilaksanakan pada 18 Februari hingga 6 Maret 2026 dan diikuti oleh seluruh santri kelas 9 sebagai bagian dari program pembinaan akhir sebelum menuntaskan masa belajar di jenjang SMP.
Program Quranic Journey merupakan agenda khusus yang dirancang sebagai ruang pemusatan perhatian santri terhadap Al-Qur’an. Selama kurang lebih dua pekan, santri difokuskan untuk memperkuat hafalan, memperbaiki bacaan, serta membangun kedekatan spiritual dengan Kalamullah. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi kelas 9, yang sebentar lagi akan melangkah ke jenjang pendidikan berikutnya.
Tema “Menghafal dengan Lisan, Menghidupkan dengan Hati” ini dibuat sebagai pengingat dan penekanan bahwa pembelajaran al-Quran tidak hanya tentang aspek kuantitas hafalan saja, tetapi juga kualitas penghayatan atau tadabbur lebih jauhnya pengamalan isi al-Quran. Menghafal dengan lisan bermakna kesungguhan dalam menjaga ayat demi ayat agar melekat kuat dalam ingatan. Adapun menghidupkan dengan hati berarti menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber nilai, pedoman bersikap, serta landasan dalam mengambil keputusan kehidupan. Dengan demikian, hafalan tidak berhenti pada aspek verbal, tetapi menjelma menjadi karakter dan perilaku sehari-hari.
Secara metode, kegiatan ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan terstruktur. santri menjalani sesi murojaah (penguatan hafalan sebelumnya), serta setoran hafalan secara intensif kepada para guru pendamping. Kemudian, seluruh hafalan yang dimiliki santri disetorkan sekali duduk setiap juznya atau langsung putaran 3 atau 5 juz sekali duduk. Sesi ini disebut dengan munaqosyah. Selain muroja’ah dan munaqosyah para santri juga mengikuti sesi tahsin, dimana bacaan al-Quran mereka terus diperbaiki agar terus menjadi lebih baik, sehingga harapannya setelah nanti lanjut ke jenjang pendidikan berikutnya mereka mampu membaca al-Quran dengan baik dan benar.

Pendampingan guru memegang peran penting dalam kegiatan ini. Para guru tidak hanya berperan sebagai penyimak hafalan, tetapi juga sebagai murabbi yang membimbing, memotivasi, serta menanamkan nilai kesabaran dan keistiqomahan. Interaksi yang terbangun selama karantina menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan penuh semangat ruhiyah.
Pelaksanaan Quranic Journey ini dilatarbelakangi oleh kesadaran bahwa kelas 9 merupakan fase akhir di tingkat SMP yang sangat menentukan. Di penghujung masa belajar, sekolah berikhtiar memberikan penguatan ruhani agar para santri tidak hanya lulus secara akademik, tetapi juga membawa bekal spiritual yang kokoh. Program ini menjadi penegasan bahwa Al-Qur’an adalah pedoman hidup yang harus senantiasa dijaga, dipelajari, dan diamalkan sepanjang hayat.
Melalui kegiatan ini, sekolah berharap tumbuh generasi yang tidak sekadar hafal ayat, tetapi juga menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai identitas diri. Ketekunan dalam menghafal diharapkan melatih kedisiplinan, sementara proses murojaah membentuk konsistensi dan tanggung jawab. Lebih dari itu, suasana spiritual yang terbangun selama kegiatan menjadi pengalaman berharga yang membekas dalam ingatan santri.
Kegiatan Quranic Journey kelas 9 ini menjadi salah satu bentuk komitmen SMPIT Bunyan Indonesia dalam membina generasi Qur’ani. Semoga ikhtiar ini menjadi wasilah lahirnya lulusan yang kokoh dalam akidah, lurus dalam ibadah, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam setiap langkah kehidupan mereka. Dengan menghafal melalui lisan dan menghidupkan melalui hati, diharapkan Al-Qur’an benar-benar menjadi pedoman yang membimbing perjalanan masa depan mereka.