Meningkatkan Kapasitas Kepemimpinan Sekolah melalui Pelatihan Transformasi

Oleh: Ibu Wiandini. SE. Gr

Pada hari Sabtu, 24 Januari, saya dan kepala sekolah SMAIT Bunyan Indonesia Ibu Noor Azizah, M. Pd. berkesempatan mengikuti pelatihan transformasi kepemimpinan kepala sekolah dengan tema “Transformasi Kepemimpinan Sekolah”. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) bekerja sama dengan Penerbit Erlangga. Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan kepala sekolah dalam menghadapi tantangan pendidikan di era modern.

Narasumber di sesi pertama pelatihan ini adalah Ustadz Lukman Fajar Purwoko, M.Pd., memaparkan tentang pentingnya refleksi bagi kepala sekolah sebagai mesin pembelajaran, kompas moral, cermin diri, dan penggerak perubahan. Refleksi diri ini sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan kepala sekolah dalam memimpin sekolah. Pelatihan ini juga membahas tentang transformasi diri dan organisasi, termasuk soft competence dan hard competence yang diperlukan oleh kepala sekolah.

Selain itu, kita juga membahas tentang pentingnya melakukan analisis kondisi lembaga, kondisi sekolah, dan global masa depan untuk menentukan keunggulan kompetitif sekolah. Melalui pelatihan ini, kita dapat memahami bahwa transformasi sekolah bukan hanya tentang meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi juga tentang mempertahankan keunggulan sekolah di era yang terus berubah. Oleh karena itu, kita perlu memperkuat DNA sekolah dan membangun pilar-pilar pencapaian sekolah, seperti individual development, performance review, dan strategic management.

Dalam sesi kedua, Ustadz Sugeng Susianto, M.Pd., memaparkan tentang pentingnya menumbuhkan growth mindset dengan konsep 3M, yaitu Mengukur (Muhasabah), Mengelola (Amanah), dan Memperbaiki (Ihsan). Konsep ini dapat membantu kepala sekolah dan guru untuk meningkatkan kualitas diri dan meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.

Selain itu, Ustadz Sugeng juga memperkenalkan model evaluasi program CIPP, yang terdiri dari empat komponen, yaitu:

  • Context: Mengevaluasi kontek program dan kebutuhan yang dipenuhi (mencari akar masalah).
  • Input: Mengevaluasi sumber daya yang digunakan dalam program.
  • Process: Mengevaluasi proses pelaksanaan program.
  • Product: Mengevaluasi hasil dan dampak program.

Dengan menggunakan model CIPP, kita dapat melakukan evaluasi yang komprehensif dan efektif terhadap program-program yang dijalankan. Dengan mengukur apa yang telah dilakukan, mengelola strategi, dan memperbaiki diri secara konsisten, serta melakukan evaluasi program yang efektif, kita dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Selain itu, kita juga diingatkan bahwa seorang guru butuh mindset bertumbuh, bukan bertahan, bahwa kita tidak dapat memperbaiki apa yang tidak dapat kita kelola, serta tidak dapat mengelola apa yang tidak dapat kita ukur.

Saya berharap pelatihan ini dapat memberikan manfaat bagi saya dan sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Terima kasih kepada Ustadz Lukman Fajar Purwoko, M.Pd. dan Ustadz Sugeng Susianto, M.Pd. atas ilmu dan pengalamannya yang telah dibagikan kepada kami.

You can’t improve what you can’t manage
You can’t manage what you can’t measure