IMPLEMENTASI NILAI-NILAI MODERASI ISLAM DI SEKOLAH DASAR

Oleh: Sabar, S.Pd.I

(Guru PAI SDIT Bunyan Indonesia Cikarang Barat)

 

Pendahuluan

Pendidikan agama Islam adalah usaha sadar menyiapkan siswa untuk mengimani, meyakini, dan mengamalkan ajaran agama islam dengan sepenuh hati, melalui kegiatan bimbingan dan pengajaran dengan tetap memperhatikan tuntunan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat demi mewujudkan persatuan nasional.[1] Senada dengan hal tersebut, Zuhairini berpendapat bahwa “Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk membimbing ke arah pembentukan kepribadian peserta didik secara sistematis dan pragmatis, supaya hidup sesuai dengan ajaran Islam, sehingga terjadinya kebahagiaan dunia akhirat”.[2] Sehingga tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yakni menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertakwa kepada-Nya, serta mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat.

Sementara itu, dalam GBPP PAI Tahun 1999 di sekolah umum dijelaskan, bahwa PAI adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama Islam sehingga menjadi manusia Muslim yang beriman, bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia. Untuk mengimplementasikan hal tersebut perlu adanya penanaman nilai-nilai melalui pengamalan ajaran agama yang tidak kaku sebagai salah satu langkah preventif membangun kesadaran beragama dan pentingnya nilai-nilai kebersamaan, saling menghargai dan menghormati dalam kehidupan. Sejalan dengan sistem pendidikan nasional bahwa “pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjungjung tinggi hak asasi manusia, nilai-nilai keagamaan, nilai budaya dan kemajemukan bangsa”[3]

Indonesia merupakan negara terbesar berpenduduk muslim di dunia. Indonesia pula didaulat sebagai negeri paling plural dalam berbagai dimensi. Keragaman suku, etnis, agama, juga adat istiadat merupakan anugrah agung dari Ilahi, sekaligus bisa menjadi petaka perang saudara. Jika penataan dan pendidikan dalam memahami perbedaan tidak diperhatikan. Guru PAI memiliki peran sentral dalam menanamkan nilai-nilai serta pengamalan ajaran-ajaran agama Islam di sekolah. Guru PAI diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai toleransi dalam proses pembelajaran serta mampu membentuk sikap luwes dan tidak kaku dalam mengamalkan ajaran agama yang dianut namun tidak mengorbankan akidah. Melalui proses internalisasi yang baik, para siswa diharapkan dapat mengartikulasikan ajaran agama dengan baik, yakni ajaran Islam yang mengedepankan keterbukaan, persaudaraan, dan kemashalatan.[4]

Islam sebagai agama rahmat memiliki keunggulan yakni ajarannya serba berimbang (moderat).[5] Moderat memiliki makna berkecenderungan kearah dimensi atau jalan tengah.[6] Moderat adalah keseimbangan antara keyakinan dan toleransi seperti bagaimana kita memiliki keyakinan tertentu tetapi tetap mempunyai toleransi yang seimbang terhadap keyakinan yang lain. Perbedaan yang terdapat dalam diri manusia secara tidak langsung tersirat dalam kitab suci al-Qur’an surat al-Hujarat ayat 13 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

 

“Wahai manusia, Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti”

 

Ayat di atas menyatakan bahwa Allah SWT menetapkan kepada setiap manusia akan perbedaan latar belakang baik berbeda suku, bangsa maupun budaya dan status sosialnya untuk saling mengenal dan memahami serta berlaku baik terhadap sesamanya. Perilaku mulia ini termasuk sebagai salah satu ciri penting manusia yang bertaqwa di sisi Allah SWT. Selanjutnya dalam al-Qur’an surat Hud ayat 118 Allah SWT juga  berfirman.

 وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ.

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat)”

 

            Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa tidaklah sulit jika Alloh SWT menginginkan untuk menjadikan manusia sebagai satu umat, namun Alloh SWT tidak menghendaki demikian karena sudah ketetapan-Nya menciptakan ciptaannya berbeda. Perbedaan yang ada dimaksudkan agar manusia saling berinteraksi dengan baik. Perbedaan yang ada dalam diri manusia, akan terasa indah jika dibingkai dengan rasa saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

Dari gambaran di atas, akan dipaparkan penanaman nilai-nilai moderasi Islam yang dilakukan guru PAI di sekolah dasar sebagai modal dasar siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan yang beragam.

 

Implementasi Nilai Moderasi Islam Pada Siswa Sekolah Dasar

Implementasi menurut KBBI yaitu “pelaksanaan/penerapan”.[7] Sedangkan pengertian umum adalah suatu tindakan atau pelaksana rencana yang telah disusun secara cermat dan rinci (matang). Sedangkan arti nilai menurut Zakiyah Darajat adalah “suatu perangkat keyakinan atau perasaan yang diyakini sebagai identitas yang memberikan ciri khusus pada pemikiran, perasaan, kriteria maupun perilaku”.[8]

Kata moderasi dalam bahsa Arab diartiakan alwasathiyah. Secara bahasa alwasathiyah berasal dari kata wasath. Al-Asfahaniy mendefenisikan wasath dengan sawa‟un yaitu tengah-tengah di antara dua batas, atau dengan keadilan, yang tengah-tengan atau yang standar atau yang biasa-biasa saja. Wasathan juga bermakna menjaga dari bersikap tanpa kompromi bahkan meninggalkan garis kebenaran agama.[9] Sedang makna Islam adalah agama Islam itu sendiri.

Jadi implementasi nilai moderasi Islam adalah penerapan suatu keyakinan atau perasaan yang meyakini sikap tengah-tengah atau standar dari agama Islam.

Adapun penanaman nilai-nilai agama yang harus ditanamkan kepada siswa meliputi: 1) Nilai keimanan, 2) Nilai ibadah, dan 3) Nilai akhlak, ada beberapa dasar dalam pendidikan akhlak yang perlu diterapkan, diantaranya adalah:[10] a) Menanamkan kepercayaan pada jiwa anak, yang mencakup percaya pada diri sendiri, percaya pada orang lain terutama dengan pendidikannya, dan percaya bahwa manusia bertanggungjawab atas perbuatan dan perilakunya. Ia juga mempunyai cita-cita dan semangat, b) Menanamkan rasa cinta dan kasih terhadap sesama, anggota keluarga, dan orang lain, c) Menyadarkan anak bahwa nilai-nilai akhlak muncul dari dalam diri manusia, dan bukan berasal dari peraturan dan undang-undang. Karena akhlak adalah nilai-nilai yang membedakan manusia dari binatang. d) Menanamkan perasaan peka pada anak-anak. Caranya adalah membangkitkan perasaan anak terhadap sisi kemanusiaannya, e) Membudayakan akhlak pada anak-anak sehingga akan menjadi kebiasaan dan watak pada diri mereka.

Implementasi nilai-nilai moderasi Islam yang dilakukan oleh guru PAI di sekolah dasar secara garis besar melalui proses pengajaran di dalam kelas yang berpatokan pada silabus, dikembangkan lagi oleh guru bersangkutan, kemudian diterapkan dalam berinteraksi di lingkungan sekolah, dari sejumlah materi PAI yang paling banyak ditekankan adalah materi akhlak, dengan kompetensi dasar. Nilai-nilai moderasi Islam secara garis besar bisa kita rangkum sebagai berikut.[11]

 

KI KOMPETENSI DASAR
  KELAS 1
2,5 Menunjukkan sikap kasih sayang, peduli, kerjasama dan percaya diri sebagai implementasi dari al-Asmau al-Husna: ar-Rahman, ar-Rahim, dan al-Malik.
2,2 Menunjukkan sikap kasih sayang dan peduli kepada sesama sebagai implementasi pemahaman Q.S. al-Fatihah dan Q.S. al-Ikhlas.
2,3 Menunjukkan perilaku percaya diri sebagai implementasi pemahaman adanya Allah Swt.
2,4 Menunjukkan perilaku percaya diri sebagai implementasi dari pemahaman keesaan Allah Swt.
2,13 Menunjukkan sikap pemaaf sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Nabi Adam a.s.
2,15 Menunjukkan sikap kerja keras, dan kerjasama sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Nabi Nuh a.s.
2,16 Menunjukkan sikap sopan dan santun sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Nabi Hud a.s.
   
2,14 Menunjukkan sikap semangat dan rajin belajar sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Nabi Idris a.s.
2,2 Menunjukkan sikap kasih sayang dan peduli kepada sesama sebagai implementasi pemahaman Q.S. al-Fatihah dan Q.S. al-Ikhlas.
2,5 Menunjukkan sikap kasih sayang, peduli, kerjasama dan percaya diri sebagai implementasi dari al-Asmau al-Husna: ar-Rahman, ar-Rahim, dan al-Malik.
1,8 Meyakini bahwa perilaku hormat dan patuh kepada orangtua dan guru sebagai cerminan dari iman.
   
  KELAS 2
2,15 Menunjukkan sikap jujur dan kasih sayang sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Nabi Muhammad saw.
2,1 Menunjukkan perilaku percaya diri sebagai implementasi dari pemahaman huruf hijaiyyah bersambung.
2,5 Menunjukkan perilaku rendah hati, damai, dan bersyukur sebagai implementasi dari pemahaman makna al-Asmau al-Husna: al-Quddus, as-Salam, dan al-Khaliq.
2,4 Menunjukkan perilaku hidup bersih dan sehat sebagai implementasi dari pemahaman hadis yang terkait dengan perilaku hidup bersih dan sehat.
2,6 Menunjukkan perilaku sehat sebagai implementasi dari pemahaman makna doa sebelum dan sesudah makan.
4,4 Mencontohkan perilaku hidup bersih dan sehat sebagai implementasi dari pemahaman makna hadis tentang kebersihan dan kesehatan.
2,9 Menunjukkan perilaku hidup sehat dan peduli lingkungan sebagai implementasi dari pemahaman doa sebelum dan sesudah wudu.
   
2,3 Menunjukkan sikap berani bertanya sebagai implementasi dari pemahaman hadis yang terkait dengan anjuran menuntut ilmu.
2,11 Menunjukkan sikap berani bertanya sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Nabi Saleh a.s.
4,3 Menunjukkan perilaku rajin belajar sebagai implementasi dari pemahaman makna hadis yang terkait dengan anjuran menuntut ilmu.
2,12 Menunjukkan perilakukerja kerassebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Nabi Lut a.s.
2,5 Menunjukkan perilaku rendah hati, damai, dan bersyukur sebagai implementasi dari pemahaman makna al-Asmau al-Husna: al-Quddus, as-Salam, dan al-Khaliq.
2,14 Menunjukkan perilaku kasih sayang sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Nabi Ya’qub a.s.
2.10 Menunjukkan sikap disiplin sebagai implementasi dari pemahaman tata cara salat dan bacaannya.
2,5 Menunjukkan perilaku rendah hati, damai, dan bersyukur sebagai implementasi dari pemahaman makna al-Asmau al-Husna: al-Quddus, as-Salam, dan al-Khaliq.
2,13 Menunjukkan sikap damai sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Nabi Ishaq a.s.
   
  KELAS 3
4,2 Mencontohkan perilaku mandiri, percaya diri, dan tanggung jawab sebagai implementasi makna Hadis yang terkandung
2,1 Menunjukkan sikap peduli terhadap sesama sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. an-Nasr dan Q.S. al-Kausar.
2,3 Menunjukkan sikap kerjasama sebagai implementasi dari pemahaman keesaan Allah Swt.
2,4 Menunjukkan sikap peduli, berbuat baik dan berhati-hati sebagai implementasi dari pemahaman Asmaul Husna: al-Wahhab, al-‘Alim, dan as-Sami‘.
4,3 Melakukan pengamatan terhadap diri dan makhluk ciptaan Allah Swt. yang dijumpai di sekitar rumah dan sekolah sebagai implementasi iman terhadap keesaan Allah Yang Maha Pencipta.
4,2 Mencontohkan perilaku mandiri, percaya diri, dan tanggung jawab sebagai implementasi makna Hadis yang terkandung
2,8 Menunjukkan sikap hidup tertib sebagai implementasi dari pemahaman makna ibadah salat.
2.10 Menunjukkan perilaku kerjsama sebagai implementasi dari pemahaman hikmah ibadah salat.
2,11 Menunjukkan sikap pemaaf sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Nabi Yusuf a.s.
2,12 Menunjukkan sikap jujur sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Nabi Syu’aib a.s
   
2,1 Menunjukkan sikap peduli terhadap sesama sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. an-Nasr dan Q.S. al-Kausar.
2,6 Menunjukkan sikap peduli terhadap sesama sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. al-Kausar.
3,6 Memahami sikap peduli terhadap sesama sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. al-Kausar.
4,6 Mencontohkan perilaku peduli terhadap sesama sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. al-Kausar.
2,4 Menunjukkan sikap peduli, berbuat baik dan berhati-hati sebagai implementasi dari pemahaman Asmaul Husna: al-Wahhab, al-‘Alim, dan as-Sami‘.
2,9 Menunjukkan sikap rendah hati sebagai implementasi dari pemahaman makna zikir dan doa setelah salat.
2,13 Menunjukkan sikap rasa ingin tahu, sabar, rela berkorban, hormat dan patuh kepada orangtua sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s.
   
  KELAS 4
2,1 Menunjukkan sikap kerjasama dan peduli sebagai implementasi dari pemahaman makna Q.S. al-Falaq dan Q.S. al-Fil.
2,2 Menunjukkan sikap percaya diri sebagai implementasi dari pemahaman Allah itu ada.
2,3 Menunjukkan sikap hati-hati, hormat dan kerjasama sebagai implementasi dari pemahaman makna al-Asmau al-Husna: Al-Basir, Al-‘Adil, dan Al-‘Azim.
2,14 Menunjukkan perilaku bersih sebagai implementasi dari pemahaman tata cara bersuci dari hadas kecil.
2,16 Menunjukkan sikap sabar sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Nabi Ayyub  a.s.
2,19 sikap berani dan sikap pantang menyerah sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Nabi Musa a.s.
2,17 Menunjukkan sikap rendah hati sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Nabi Zulkifli a.s.
   
2,1 Menunjukkan sikap kerjasama dan peduli sebagai implementasi dari pemahaman makna Q.S. al-Falaq dan Q.S. al-Fil.
2,4 Menunjukkan sikap patuh sebagai implementasi dari pemahaman makna iman kepada malaikat-malaikat Allah.
4,4 Melakukan pengamatan diri dan alam sekitar sebagai implementasi makna iman kepada malaikat-malaikat Allah.
2,15 Menunjukkan sikap disiplin sebagai implementasi dari pemahaman makna ibadah salat
2,21 Menunjukkan perilaku peduli dan rendah hati sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Wali Songo
   
  KELAS 5
2,1 menunjukkan sikap kerja sama dan peduli sebagai implementasi pemahaman makna Q.S. at-Tīn dan Q.S. al-Mā’ūn
1,4 meyakini adanya kitab-kitab suci melalui rasul-rasulNya sebagai implementasi rukun iman
2,2 menunjukkan sikap berani, peduli, mandiri, dan teguh pendirian sebagai implementasi pemahaman makna al-Asmau al-Husna: al-Mumit, al-Hayy, al-Qayyum, dan al-Ahad
2,4 menunjukkan sikap percaya diri sebagai implementasi pemahaman makna diturunkannya kitab-kitab suci melalui rasul-rasulNya
1.10 menjalankan kewajiban puasa Ramadan sebagai implementasi pemahaman rukun Islam
2.10 menunjukkan sikap sabar dan mengendalikan diri sebagai implementasi pemahaman hikmah puasa Ramadan
2,11 menunjukkan sikap tekun sebagai implementasi pemahaman pelaksanaan salat tarāwih dan tadārus al-Qur’an
   
2,1 Menunjukkan sikap saling mengingatkan dan berpegang teguh sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. at-Tin dan Q.S. al-Ma’un.
2,3 Menunjukkan sikap sabar dan jujur sebagai implementasi dari pemahaman mengenal nama-nama Rasul Allah dan Rasul Ulul ‘Azmi.
2,16 Menunjukkan sikapjujur dan peduli sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladan Nabi Muhammad saw.
2,11 Menunjukkan sikap tekun sebagai implementasi dari pemahaman pelaksanaan salat tarawih dan tadarus al-Qur’ān.
2,17 Menunjukkan sikap rendah hati sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladan Luqman sebagaimana terdapat dalam al-Qur’ān.
   
  KELAS 6
2,1 menunjukkan perilaku toleran, simpati, waspada, berbaik sangka, dan hidup rukun sebagai implementasi pemahaman Q.S. al-Kafirun, Q.S. al-Maidah/5:2-3 dan Q.S. al- Hujurat/49:12-13
2,2 menunjukkan sikap peduli sebagai implementasi pemahaman makna al-Asmau al-Husna: as-Samad, al-Muqtadir, al-Muqaddim, dan al-Baqi
1,7 menjalankan kewajiban berzakat sebagai implementasi pemahaman rukun Islam
2,7 menunjukkan sikap peduli sebagai implementasi pemahaman hikmah zakat, infaq, dan sedekah sebagai implementasi rukun Islam
3,7 memahami hikmah zakat, infaq, dan sedekah sebagai implementasi rukun Islam
4,7 menunjukkan hikmah zakat, infaq, dan sedekah sebagai implementasi rukun Islam
2,12 menunjukkan sikap semangat dalam belajar sebagai implementasi pemahaman kisah keteladan Nabi Muhammad saw
2,13 menunjukkan sikap peduli sebagai implementasi pemahaman kisah keteladan sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw.
   
2,1 Menunjukkan perilaku toleran,simpati, waspada, berbaik sangka dan hidup rukunsebagai implementasi dari pemahaman Q.S. al-Kafirun, Q.S. al-Maidah/5:2-3dan Q.S. al- Hujurat/49:12-13.
3,6 Memahami sikap toleran dan simpatik terhadap sesama sebagai wujud dari pemahaman Q.S. al-Kafirun.
4,6 Menunjukkan sikap toleran dan simpatik terhadap sesama sebagai wujud dari pemahaman Q.S. al-Kafirun.
1,7 Menjalankan kewajiban berzakat sebagai implementasi dari pemahaman rukun Islam.
2,7 Menunjukkan sikap peduli sebagai implementasi dari pemahaman hikmah zakat, infaq dan sedekah sebagai implementasi dari rukun Islam.
3,7 Memahami hikmah zakat, infaq dan sedekah sebagai implementasi dari rukun Islam.
4,7 Menunjukkan hikmah zakat, infaq dan sedekah sebagai implementasi dari rukun Islam.
2,8 Menunjukkan sikap tanggung jawab sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladan Nabi Yunus a.s.
2,9 Menunjukkan sikapkasih sayang sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladan Nabi Zakariya a.s.
2.10 Menunjukkan sikappatuh dan taat sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladan Nabi Yahya a.s.
2,11 Menunjukkan sikappeduli sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladan Nabi Isa a.s.
2,14 Menunjukkan sikap teguh pendirian sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Ashabul Kahfi sebagaimana terdapat dalam al-Qur’ān.
 

 

 

Tantangan Implementasi Moderasi Islam Di Sekolah Dasar

Moderasi Islam tentunya tidak akan lepas dari tantangan dalam implementasinya. Beberapa hal tantangan tersebut adalah: Pertama,  menyamakan persepsi. Menurut Oman Fatturahman, ”menyamakan persepsi ini memerlukan maktu yang  cukup panjang, jangan sampai ada persepsi moderat menjadi liberal”.[12] Kedua, perbedaan madzhab dalam Islam. Sebagai contoh, pendapat antara qunut subuh atau tidak, peringatan hari besar Islam benar atau tidak. Ketiga, kurangnya interaksi dan kontrol guru PAI. Hal ini terjadi karena alokasi jam mengajar Agama Islam yang kurang memadai dalam setiap pekan.[13]

 

Upaya Guru PAI Agar Implementasi Moderasi Islam Dapat Berjalan Dengan Baik

Berikut upaya yang dilakukan guru PAI agar Implementasi moderasi Islam bagi siswa terlaksana sesuai harapan adalah: 1) Mengkaitkan materi pelajaran PAI dalam kehidupan sehari-hari siswa misalnya bagaimana bersikap dan bergaul dengan sesama non muslim, batasan-batasan dalam bergaul dalam ajaran Islam, memberikan pemahaman yang mana haram dan halal dengan menggunakan bahasa yang mudah diterima, mengajarkan rukun Islam yakni syahadat, salat, zakat, berpuasa, dan berhaji bagi yang mampu, 2) Menjadi contoh teladan dalam kehidupan sehari -hari bagi siswa, 3) Melakukan home visit yakni berkunjung ke rumah orangtua siswa secara bergantian setiap akhir pekan untuk mengetahui kondisi keluarga siswa, perkembangan siswa, dan pola asuh orang tua.[14]

 

Kesimpulan

Islam sebagai agama rahmat memiliki keunggulan yakni ajarannya serba berimbang (moderat). Moderat dalam arti keseimbangan antara keyakinan dan toleransi seperti bagaimana kita memiliki keyakinan tertentu tetapi tetap mempunyai toleransi yang seimbang terhadap keyakinan yang lain.

Implementasi nilai-nilai moderasi Islam yang dilakukan oleh guru PAI di sekolah dasar secara garis besar melalui proses pengajaran di dalam kelas yang berpatokan pada silabus, dikembangkan lagi oleh guru bersangkutan, kemudian diterapkan dalam berinteraksi di lingkungan sekolah, dari sejumlah materi PAI yang paling banyak ditekankan adalah materi akhlak, dengan kompetensi dasar.

Upaya yang dilakukan guru PAI agar Implementasi moderasi Islam bagi siswa terlaksana sesuai harapan adalah: mengkaitkan materi pelajaran PAI dalam kehidupan sehari-hari; menjadi contoh teladan dalam kehidupan sehari-hari bagi siswa; dan melakukan home visit yakni berkunjung ke rumah orangtua siswa secara bergantian.

 

 

 

Daftar Pustaka

 

[1] Muhaimin Ali, Guru dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Agensindo: 2002), 75-76.

[2] Zuhairini, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Malang: UIN Press, 2004), hlm. 11

[3] Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), 56

 [4] Habib Umar Al-Hafizh, Pimpinan Majelis Dar al-Musthafa, Yaman, dalam syiarnusantara.id/2017/10/19/kementerian-agama-bekali-dosen-pai-tentang-moderasi, diakses pada hari Kamis, 12 Desember 2019 pukul 10:20

[5] https://www.kompasiana.com/jumatan/591d43df6d7e616d29572030/apa-itu-moderasi-islam, diakses pada hari Kamis, 12 Desember 2019 pukul 09:20

[6] kbbi.web.id, diakses tanggal 12 Desember 2019

[7] https://kbbi.web.id/implementasi, di akses pada hari Kamis, 12 Desember 2019.

[8] Zakiyah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, ( Jakarta: Bulan Bintang, 1996), 59.

[9] Al-Alamah al-Raghib al-Asfahaniy, Mufradat al-Fadz al-Qur‟an,

(Beirut: Darel Qalam, 2009), hlm. 869.

[10] Syekh Khalid bin Abdurrahman, Cara Islam Mendidik Anak, (Yogyakarta: ad-Dawa 2006)

[11] Silabus PAI dan Budi Pekerti Kurikulum 2013

[12] https://www.gatra.com/detail/news/406519-Tantangan-Penerapan-Moderasi-Agama, diakses pada hari Kamis, 12 Desember 2019 pukul 21:57.

[13] Rusmayani, Penanaman Nilai-Nilai Moderasi Islam Siswa Di Sekolah Umum, STAI Denpasar-Bali, April 2008.

[14] Ibid,. h. 784