SEKILAS INFO
31-05-2020
  • 1 tahun yang lalu / Yayasan Bunyan Auladia Cemerlang adalah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidika, sosial dan keagamaan yang telah didirikan sejak tahun 2011 dan telah tercatat di notaris Ika Sakti Rachmasari, SH, MM dengan nomor 09, tanggal 27 Juni 2011 dan disahkan melalui SK Kemenhumkam no: AHU-7862.AH.01.04 tahun 2011, berkedudukan di Bekasi dan sah secara hukum jika...
17
Des 2019
0
Hakikat Ibadah

Oleh : Ust. M. Husni Ramdani, S. Ud

Ibadah secara bahasa berarti taat, tunduk, menurut, mengikut dan doa. Sedangkan menurut sebagian ulama tauhid, ibadah adalah mengesakan Allah Ta’ala dengan sungguh-sungguh dan merendahkan diri serta menundukan jiwa setunduk-tunduknya kepada-Nya. Pengertian ini didasarkan pada firman Allah dalam Alquran surat ke empat ayat 36 “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” Sedangkan dari kalangan fikih mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ibadah adalah: semua bentuk pekerjaan yang bertujuan memperoleh keridhaan Allah Ta’ala dan mendambakan pahala dari-Nya di akhirat.
Ibadah dilihat dari tiga segi pelaksanaanya. Pertama, jasmaniah rohiah (rohaniah), yaitu perpaduan ibadah jasmani dan rohani, seperti shalat dan puasa. Kedua, ibadah rohiah dan maliah, yaitu perpaduan antara rohani dan harta, seperti zakat. Ketiga, ibadah jasmaniah rohiah dan maliah, yaitu seperti menunaikan haji.
Terdapat firman Allah dalam surat az-Zariyat ayat 56 yang artinya: “Dan Aku tidak ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” Ibadah pada hakikatnya adalah menumbuhkan kesadaran diri manusia bahwa dia adalah makhluk Allah yang diciptakan sebagai insan yang mengabdi kepada-Nya. Manusia itu diperintahkan supaya mengabdi kepada Allah, maka tidak ada alasan baginya untuk mengabaikan kewajiban beribadah kepadan-Nya. Sebagaimana firmannya “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu agar kamu bertakwa.” (QS.2:21).
Pada prinsipnya ibadah merupakan sari ajaran Islam yang berarti penyerahan diri secara sempurna kepada Allah Ta’ala. Hal itu agar dapat mewujudkan suatu sikap dan perbuatan dalam bentuk ibadah. Apabila hal ini dapat dicapai sebagai nilai dalam sikap dan prilaku manusia, maka akan lahir suatu keyakinan untuk tetap mengabdikan diri kepada Allah Ta’ala.
Terdapat sebuah cerita yang bermula dari sebuah pertanyaan: Apa yang Allah butuhkan dari ibadah kita?
Setelah mendengar dari banyak orang yang malas beribadah, khususnya mereka yang meninggalkan shalat, di mana mereka bertanya, “Apa yang Allah butuhkan dari ibadah kita? Sampai-sampai dalam Alquran Dia mewajibkan secara keras kepada kita, sekaligus mengancam kita dengan siksaan yang pedih di neraka jahanam? Bagaimana hal ini cocok dengan gaya bahasa Alquran yang istiqomah dan adil, sehingga memberikan ancaman keras terhadap kesalahan kecil semacam ini?”
Jawabannya: Benar, Allah Ta’ala tidak sama sekali membutuhkan ibadahmu, bahkan sedikitpun Dia tidak mambutuhkan apa-apa. Namun sebaliknya kamulah yang membutuhkan dan perlu kepada ibadah. Pada hakikatnya engkau itu sakit, sementara ibadah merupakan obat mujarab yang bisa menyembuhkan luka-luka jiwamu.
Bagaimana pendapatmu seandainya ada seorang pasien ketika diobati oleh dokter yang sangat belas kasih dan penuh perhatian yang terus menerus memintanya untuk minum obat agar bisa mengobati penyakitnya, si pasien tadi malah berkata, “Apa perlumu kepada obat itu hingga terus menerus menyuruhku untuk meminumnya?” dari sini kita bisa mengetahui serta menyimpulkan betapa bodohnya cara berpikir si pasien tadi?
Adapun peringatan dan ancaman keras Alquran terhadap orang yang meninggalkan ibadah, hal itu dapat ditafsirkan sebagai berikut: Seorang penguasa akan menghukum orang yang melakukan sebuah tindakan kriminalitas yang terkait dengan hak-hak orang lain dengan hukuman yang berat demi untuk menjaga hak-hak rakyatnya. Demikian pula dengan Sang Penguasa azali dan abadi, Allah akan menghukum orang yang meninggalkan ibadah dan shalat dengan hukuman yang berat. Sebab, orang tersebut jelas-jelas telah melanggar hak seluruh entitas yang merupakan rakyat dan makhluk-Nya sekaligus telah menzalimi mereka. Hal itu karena kesempurnaan para makhluk begitu tampak dalam bentuk tasbih dan ibadah kepada Allah Sang Pencipta. Sedangkan orang yang meninggalkan ibadah tidak melihat dan tidak mengakui ibadah semua entitas tadi bahkan ia mengingkarinya. Ini tentu saja sangat merendahkan semua makhluk (entitas) yang masing-masing merupakan goresan Tuhan dan cermin manifestasi nama-nama Tuhan di mana mereka berada dalam posisi yang tinggi dari sisi ibadah dan tasbih, tiada lain adalah Malaikat salah satunya. Maka, apabila seseorang bersikap mengingkari itu, orang tadi telah merendahkan kedudukan mereka yang mulia, makhluk lain pula di mana ia hanya melihat mereka sebagai sesuatu yang sia-sia belaka tanpa tugas apa-apa. Ia juga menganggap semua entitas itu sebagai sesuatu yang tidak bernilai. Dengan begitu, ia telah menghinakan dan meremehkan semua entitas, serta merendahkan kemuliaan dan kesempurnaan mereka.
Ya, setiap manusia melihat alam dengan kacamatanya masing-masing. Allah Ta’ala menciptakan manusia dalam bentuk ukuran dan timbangan bagi alam semesta. Dia telah memberikan kepadanya sebuah alam khusus selain alam ini dan menunjukkan warna alam ini sesuai dengan keyakinan qalbu manusia. Manusia yang sedih, putus asa, dan menangis, melihat seluruh entitas menangis. Sementara manusia yang senang dan bahagia, melihat seluruh entitas tersenyum, tertawa, dan bahagia. Demikian pula dengan orang yang melakukan ibadah dan zikir dengan sungguh-sungguh, penuh perasaan dan perenungan. Ia menyingkap sebagian dari ibadah dan tasbih entitas. Bahkan, ia melihatnya sebagai sebuah fakta. Adapun orang yang meninggalkan ibadah karena lalai dan ingkar, ia membayangkan entitas secara sangat keliru sekaligus menentang hakikat kesempurnaannya. Dengan begitu, ia telah melanggar hak-haknya.
Di samping itu, orang yang meninggalkan shalat sebetulnya telah menzalimi dirinya. Sebab, dirinya itu bukan merupakan miliknya. Tetapi ia hanyalah hamba milik Tuan dan Penciptanya. Karena itu, Sang Tuan mengancam dan memberikan peringatan keras kepadanya agar ia bisa mengambil hak hamba-Nya tadi dari nafsunya ammarah-nya. Selain itu, ketika ia meninggalkan ibadah yang merupakan hasil dan tujuan penciptaannya, berarti ia telah melanggar hikmah Ilahi dan kehendak Rabbani. Karenanya, atas perbuatannya itu ia dihukum dengan hukuman yang keras.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa orang yang meninggalkan ibadah sebetulnya telah menzalimi dirinya, padahal dirinya itu merupakan hamba Allah. Selain itu, ia juga telah melanggar dan menzalimi hak-hak makhluk. Ya, sebagaimana kekufuran merupakan bentuk penghinaan terhadap entitas, meninggalkan ibadah juga merupakan bentuk pengingkaran terhadap kesempurnaan makhluk dan pelanggaran terhadap hikmah Ilahi. Karena itu, orang yang meninggalkan shalat layak mendapat ancaman keras dan hukuman yang berat. Demikianlah, Alquran meneggunakan gaya bahasa dalam bentuk ancaman dan peringatan untuk menggambarkan kelayakan tersebut sekaligus untuk menggambarkan hakikat yang telah disebutkan tadi. Jadi, gaya bahasa tersebut sangat tepat dan sangat sesuai dengan konteksnya sebagai wujud dari sebuah retorika.

Download Proposal & Broshure

 

Video Terbaru

Data Sekolah

SEKOLAH BUNYAN INDONESIA

NPSN : 347446868

Kp. Telajung RT/RW 01/05 samping Perum GMG blok K
KEC. Cikarang Barat
KAB. Bekasi
PROV. Jawa Barat
KODE POS 17530
Mulai chat
Chat
Salam, silahkan chat kami jika ada yang perlu dibantu (Sekolah Bunyan Indonesia)
Powered by